Dari Bertahan dari Demam Berdarah hingga Melindungi Komunitasnya | World Mosquito Program Loncat ke konten utama

Ditulis oleh: Carlos Pineda | Dipublikasikan pada: 12 Juni

Hanya sedikit orang yang memahami bahaya demam berdarah secara pribadi seperti orang yang pernah mengalaminya. Alicia Lurdes Bravo Yupanqui—seorang perwakilan masyarakat dan mahasiswa hukum di Comas, bagian utara Lima—terkena penyakit ini bertahun-tahun lalu dan tak pernah melupakannya. Kini, ia memanfaatkan pengalaman tersebut untuk membantu tetangganya menyikapi demam berdarah dengan serius dan memahami alat baru yang belum dikenal dalam upaya memeranginya: World Mosquito ProgramWolbachia dari World Mosquito Program. Melalui percakapan yang sabar di taman dan dapur komunitas, ia mengubah rasa ingin tahu dan keraguan menjadi kepercayaan yang membuat strategi kesehatan masyarakat berhasil. Kisahnya menunjukkan bagaimana bertahan dari suatu penyakit dapat menjadi alasan untuk melindungi seluruh komunitas.

"Kadang-kadang orang mendengar kata demam berdarah dan mengira itu hal sepele, padahal penyakit ini bisa membuat Anda sangat sakit—bahkan bisa berakibat fatal."

Di distrik Comas, di bagian utara Lima, Peru, organisasi-organisasi warga merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Taman, pertemuan warga, dan ruang publik sering kali menjadi tempat bagi para warga untuk bertukar informasi, mendiskusikan tantangan-tantangan lokal, dan bekerja sama mencari solusi yang bermanfaat bagi lingkungan mereka.

Di Zona 6, salah satu orang yang telah mengambil peran tersebut adalah Alicia Lurdes Bravo Yupanqui, seorang perwakilan masyarakat dan mahasiswa hukum di Universidad César Vallejo. Di waktu luangnya, ia gemar bermain bola voli dan ikut serta dalam kegiatan masyarakat, namun yang benar-benar memotivasinya adalah komitmennya terhadap tetangganya. "Yang paling memotivasi saya adalah kepedulian terhadap kebaikan bersama komunitas kita dan melihat perubahan positif di negara saya," katanya.

Namun, minatnya pada kesehatan masyarakat tidak hanya berasal dari perannya sebagai pemimpin. Minat tersebut terbentuk dari pengalaman pribadi yang sangat memengaruhi hidupnya. Beberapa tahun lalu, Alicia tinggal di Piura, sebuah wilayah di bagian utara Peru yang sering dilanda wabah demam berdarah selama musim hujan. Sama seperti di Comas, air hujan sering menggenang di wadah-wadah dan tangki penampungan air rumah tangga, sehingga menciptakan tempat perkembangbiakan yang ideal bagi Aedes aegypti yang menularkan demam berdarah.

Alicia Lurdes Bravo Yupanqui, seorang wakil masyarakat di Comas, Peru, sedang berbincang dengan para anggota masyarakat

Rasa sakit yang sangat menyiksa akibat demam berdarah

Di sanalah Alicia jatuh sakit. "Aku mulai merasakan sakit kepala, nyeri di belakang mata, dan demam," kenangnya. Para dokter segera memastikan diagnosisnya: demam berdarah. Hari-hari berikutnya dipenuhi rasa tidak nyaman secara fisik dan kekhawatiran. "Rasa sakitnya sangat hebat. Enggak mau makan apa-apa, merasa mual… hari-hari itu terasa tak berujung," tambahnya.

Selama masa pemulihannya, Alicia juga menyaksikan dampak yang dapat ditimbulkan oleh demam berdarah terhadap keluarga-keluarga di sekitarnya. Ia mengingat kasus seorang teman dekat yang putranya nyaris meninggal akibat demam berdarah berat. Pengalaman itu mengubah selamanya cara pandangnya terhadap nyamuk yang menjadi penyebar penyakit tersebut. "Setiap kali melihat nyamuk, aku berusaha mengusirnya," katanya, dengan nada yang sangat serius dalam upaya melindungi keluarganya.

Demam berdarah, ancaman kesehatan masyarakat yang semakin meningkat di Peru

Seiring berjalannya waktu, Alicia menyadari bahwa demam berdarah bukanlah masalah yang dapat diatasi hanya di dalam satu rumah tangga. Ini adalah tantangan yang berdampak pada seluruh masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, demam berdarah telah menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling mendesak di Peru, dengan ribuan kasus dilaporkan di seluruh negeri dan semakin banyaknya populasi nyamuk, Aedes aegypti, di kawasan perkotaan padat penduduk seperti bagian utara Lima. Di distrik seperti Comas, nyamuk tersebut sering menemukan tempat perkembangbiakan di genangan air yang terkumpul di wadah, bahan limbah, dan area penyimpanan kecil di rumah tangga.

Ketika Alicia kembali ke Comas dan mulai menjalankan perannya sebagai perwakilan masyarakat, ia mulai berbincang dengan tetangganya tentang demam berdarah. Dalam pertemuan masyarakat, acara sosial, dan percakapan sehari-hari, ia mengingatkan orang-orang bahwa penyakit ini tidak boleh dianggap remeh. "Kadang-kadang orang mendengar kata 'demam berdarah' dan mengira itu hal sepele," jelasnya. "Padahal, penyakit ini bisa membuatmu sangat sakit—bahkan bisa berakibat fatal."

Jadilah Bagian dari Solusi: Bergabunglah dengan Komunitas Kami

Temukan bagaimana kami mengubah kehidupan dan memerangi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk secara global. Daftar untuk mendapatkan informasi eksklusif dan pembaruan yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.

Sekelompok siswa dari Comas, Peru, memegang spanduk bertuliskan 'lebih banyak wolbachia, lebih sedikit demam berdarah'

Strategi inovatif untuk membantu memerangi demam berdarah

Pada masa itulah Alicia pertama kali mendengar sebuah kata yang terdengar asing baginya: Wolbachia. "Awalnya terdengar seperti nama yang aneh, sesuatu yang tidak masuk akal," kenangnya. Namun rasa ingin tahunya, serta dedikasinya terhadap komunitas, mendorongnya untuk belajar lebih banyak.

Tak lama setelah itu, Alicia dan para pemimpin masyarakat lainnya diundang ke sebuah pertemuan di Balai Kota Comas. Di sana, para ahli dari Kementerian Kesehatan Peru, DIRIS Lima Norte, dan Jaringan Kesehatan Terpadu (RIS) setempat memperkenalkan sebuah strategi inovatif untuk membantu memerangi demam berdarah: pelepasan nyamuk yang membawa bakteri alami Wolbachia, yang mengurangi kemampuan nyamuk tersebut untuk menularkan virus seperti demam berdarah, Zika, dan chikungunya.

Bukti di balik Wolbachia

Dalam pertemuan tersebut, Alicia mengetahui bahwa strategi tersebut didukung oleh penelitian bertahun-tahun dan pengalaman internasional yang sukses. Sebuah uji klinis acak berstandar emas di Yogyakarta, Indonesia, menunjukkan penurunan insiden demam berdarah sebesar 77 persen dan penurunan rawat inap akibat demam berdarah sebesar 86 persen di wilayah Wolbachia dibandingkan dengan wilayah yang tidak diterapkan. Kementerian Kesehatan Peru secara resmi mengesahkan pelaksanaannya melalui Keputusan Menteri No. 485-2025-MINSA, di bawah Rencana Pelaksanaan dan Evaluasi Wolbachia untuk Pengendalian Demam Berdarah di Skenario Prioritas 2025–2027. Keputusan tersebut mendukung penggunaan Wolbachia metode biologis pelengkap untuk pengendalian demam berdarah di negara tersebut.

 

Alicia, seorang relawan komunitas, sedang berdiri di jalan di Comas, Peru

Membangun kepercayaan masyarakat melalui dialog

Ketika Alicia mulai membagikan informasi ini kepada tetangganya, berbagai pertanyaan pun segera bermunculan. Banyak di antara mereka yang belum pernah mendengar tentang Wolbachia . "Ketika saya menyebut namanya, orang-orang langsung bertanya, 'Apa itu?'" kenangnya sambil tertawa. Beberapa tetangga bahkan membayangkan penjelasan yang sama sekali berbeda mengenai cara kerja strategi tersebut. Namun bagi Alicia, pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bagian wajar dari proses tersebut. Sebagai seorang pemimpin komunitas, ia memahami bahwa kepercayaan dibangun melalui informasi yang jelas dan dialog yang terbuka.

Alih-alih merasa putus asa akibat keraguan awal, Alicia melakukan apa yang paling ia kuasai sebagai pemimpin komunitas: mendengarkan, berdiskusi, dan mengorganisir. Bersama dengan ketua zona dan dengan dukungan para ahli kesehatan dari Wolbachia Kementerian Kesehatan, ia mulai menyelenggarakan pertemuan di taman, dapur umum, dan ruang-ruang publik lainnya di lingkungan sekitar untuk menjelaskan cara kerja strategi tersebut. Tujuannya sederhana: memastikan setiap warga memahami inisiatif ini dan dapat membagikan informasi tersebut kepada anggota keluarga serta warga lain di komunitas.

Selama proses ini, mereka juga mempelajari pengalaman dari negara-negara lain yang telah menerapkan Wolbachia , termasuk El Salvador, di mana masyarakat yang mirip dengan mereka telah menerima metode tersebut sebagai cara yang efektif untuk memerangi demam berdarah. Bagi Alicia, mempelajari pengalaman-pengalaman tersebut membantu memperkuat kepercayaan masyarakat dan mempertegas gagasan bahwa informasi serta pengorganisasian masyarakat sangat penting dalam menangani penyakit ini.

 

Harapan untuk pengendalian demam berdarah di Peru

Saat ini, Alicia memandang proyek ini dengan penuh harapan. Ia yakin bahwa jika masyarakat memahami strateginya dan ikut serta secara aktif, mereka akan menerima inisiatif seperti Wolbachia dapat memberikan perubahan nyata dalam upaya memerangi demam berdarah. "Saya yakin dampak yang akan ditimbulkannya di Peru tercinta ini akan membawa hasil yang positif," katanya. "Dan bahwa kita akan mampu mengendalikan demam berdarah tanpa ada korban jiwa."

Ingin mengetahui lebih lanjut tentang World Mosquito Program dan metode Wolbachia kami yang berkelanjutan dan berbasis alam?