Sebuah Film Tanpa Dialog: Karl Doran Berbicara tentang Pembuatan dan Peluncuran "Releasing Hope"
Ketika World Mosquito Program berupaya menciptakan "Releasing Hope", sebuah film animasi tanpa dialog tentang demam berdarah, ketahanan komunitas, dan Wolbachia , mereka meminta bantuan studio Flow Creative yang berbasis di Manchester untuk mewujudkannya.
Karl Doran, Pendiri dan Direktur Kreatif, memimpin proyek ini mulai dari tahap konsep hingga tayang, mengatasi tantangan dalam menyampaikan kisah kesehatan masyarakat yang kompleks hanya melalui narasi visual, yang diiringi musik dari band Denmark ternama, Efterklang. Dalam wawancara ini, Karl menceritakan proses kreatif dan teknis di balik film tersebut: mulai dari pengembangan narasi perjalanan sang pahlawan yang sesuai dengan fakta ilmiah, hingga teknik animasi yang menghidupkan bayangan penyakit tersebut dengan cara yang mengganggu.
Hasilnya adalah sebuah film berdurasi empat setengah menit yang dirancang untuk menjangkau penonton di seluruh 16 negara tempat WMP , melintasi batas negara, budaya, dan bahasa.
Wawancara dengan Karl Doran, Pendiri dan Direktur Kreatif Flow Creative | Di Balik Layar Film
Apa yang menurut Anda paling menonjol dari proyek tersebut pada tahap-tahap awalnya?
Proyek ini merupakan impian bagi kami dalam banyak hal. Begitu kami mulai berdiskusi dengan World Mosquito Program langsung menyadari bahwa ini adalah kesempatan emas untuk membuat film animasi yang kuat dan indah, sekaligus membantu mewujudkan perubahan positif yang besar di dunia. Kami selalu percaya pada kekuatan kreativitas untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik dan telah bekerja sama dengan banyak lembaga amal serta LSM selama bertahun-tahun, sehingga proyek ini terasa sangat cocok bagi kami sejak awal.
Sebelumnya, kami belum pernah mendengar tentang WMP Wolbachia , tetapi begitu kami mengetahui jumlah orang yang terkena penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di seluruh dunia serta potensi metode ini untuk menyelamatkan jutaan nyawa, kami tahu bahwa kami harus ikut terlibat.
Bagaimana pendapatmu tentang tantangan awal dalam membuat sesuatu yang bersifat universal dan tanpa dialog?
Sejak awal, salah satu poin penting dalam arahan proyek ini adalah persyaratan agar film ini tidak menggunakan dialog, melainkan mengandalkan narasi visual, musik, dan desain suara. WMP di 16 negara di seluruh dunia, sehingga sangat penting agar tidak ada hambatan bahasa saat mendistribusikan film ini. Menceritakan kisah yang kompleks seperti ini—yang melibatkan ilmu pengetahuan mutakhir yang kemungkinan besar belum familiar bagi penonton—serta membuatnya mudah dipahami dan menyentuh emosi tanpa menggunakan kata-kata, merupakan tantangan besar.
Kami bekerja sama erat dengan WMP dan seorang penulis yang luar biasa, Michelle Collier, untuk mengembangkan narasi yang sesuai dengan fakta ilmiah, menceritakan kisah manusia yang sejalan dengan pengalaman para penderita penyakit ini, serta dapat disampaikan tanpa dialog atau narasi suara.
Bekerja sama dengan band Efterklang yang luar biasa dan sangat diakui dalam penggarapan musik latar juga memberikan dampak yang besar. Musik yang mereka ciptakan membantu mengarahkan perjalanan emosional tokoh utama kita, serta menambah nuansa yang menyentuh dan kuat pada film ini.
"Menceritakan kisah rumit seperti ini, yang melibatkan ilmu pengetahuan mutakhir yang mungkin belum dikenal oleh penonton, serta menyajikannya secara mudah dipahami dan menyentuh hati tanpa menggunakan kata-kata, merupakan tantangan besar."
Karl Doran, Pendiri dan Direktur Kreatif, Flow Creative
Teknik atau alat animasi apa saja yang menjadi kunci dalam mewujudkan tampilan keseluruhan film ini?
Film ini menggabungkan sejumlah teknik dan proses animasi. Seluruh ilustrasi digambar tangan oleh seniman berbakat Eleonora Asparuhova, kemudian dirigging dan dianimasikan oleh tim Flow menggunakan After Effects dan Moho. Hantu tersebut dimodelkan dan dianimasikan dalam 3D menggunakan Cinema 4D, dengan simulasi partikel yang dibuat menggunakan Trapcode Particular dan Stardust. Kami juga menggunakan animasi frame-by-frame pada banyak adegan, serta membuat banyak elemen dalam 3D lalu merendernya dalam 2D, seperti motor dan jubah gadis tersebut.
Proses ini benar-benar bersifat eksperimental dan membutuhkan riset serta pengembangan untuk menemukan cara paling efektif dalam menciptakan tampilan yang kami inginkan untuk film ini. Yang terpenting adalah hasil akhirnya terasa meyakinkan dan alami, serta alat-alat yang kami gunakan membantu menceritakan kisah manusia tersebut, bukan malah menghalangi alur ceritanya.
Seberapa pentingkah gerakan, warna, dan tempo dalam film ini untuk mengekspresikan emosi dan kisah manusia yang mengharukan?
Penggunaan warna dalam film ini terbatas pada hitam dan putih, dengan warna merah untuk menggambarkan bahaya nyamuk, dan warna biru untuk Wolbachia . Hal ini memberi kami bahasa visual yang sangat kuat untuk digunakan, dengan warna biru yang bersinar digunakan untuk melambangkan harapan.
| ●Hitam dan putih — dunia apa adanya | ●Merah — bahaya, ancaman penyakit | ●Biru — Wolbachia, harapan |
Melihat cahaya biru misterius ini, serta upaya yang dilakukan WMP komunitasnya, mendorong sang pahlawan untuk bertindak dan melawan. Setelah menyaksikan kehancuran yang ditimbulkan oleh ancaman penyakit di kotanya dan dalam keluarganya sendiri, ia dengan berani melawan ancaman tersebut, namun ancaman itu terlalu kuat untuk dikalahkan sendirian. Dengan bekerja sama, dan berkat kekuatan Wolbachia, mereka berhasil mengatasinya. Sepanjang film, sumber cahaya biru tersebut tetap menjadi misteri, hingga pada akhirnya terungkap bahwa cahaya itu berasal dari seekor nyamuk, membalikkan persepsi tentang nyamuk sebagai musuh dan menunjukkan bahwa nyamuk dapat menjadi bagian dari solusi sekaligus masalah.
Pengaturan tempo dan waktu merupakan aspek penting dalam film ini, yang memungkinkan penonton memahami perjalanan emosional sang tokoh utama, masalah yang lebih luas terkait penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, serta kemampuan yang kita miliki untuk melakukan sesuatu guna mengatasinya. Kami harus memastikan bahwa cerita ini mengutamakan sisi kemanusiaannya. Menceritakannya dari sudut pandang sang gadis membantu menghumanisasikan cerita tersebut dan, semoga saja, membuat topik yang rumit ini terasa lebih dekat dan menyentuh hati para penonton.
Adakah adegan-adegan tertentu yang menjadi penentu alur cerita atau titik balik dalam cerita tersebut?
Film ini memperkenalkan latar geografisnya di awal, konteks kenaikan suhu global dan meningkatnya populasi nyamuk, lalu kita menyaksikan realitas hidup di bawah ancaman penyakit yang ditularkan nyamuk. Titik balik pertama terjadi ketika tokoh utama kita melihat saudara laki-lakinya jatuh sakit dan memutuskan untuk bertindak. Dengan kepolosan masa mudanya, ia dengan berani berusaha melawan ancaman tersebut, namun terlempar kembali ke jurang kegelapan. Pada titik ini dalam cerita, semua harapan sirna—ia telah mencoba dan gagal.
Kemudian titik balik kedua terjadi ketika cahaya biru yang penuh harapan muncul di kegelapan. Cahaya ini berasal dari Wolbachia dan sebuah WMP , yang membawanya ke WMP . Melihat tindakan kolektif yang diambil memberinya keberanian baru dan, bersama WMP komunitasnya, mereka kembali berjuang melawan hantu tersebut.
Menurut Anda, apa saja tantangan kreatif atau teknis terbesar dalam mewujudkan proyek ini?
Tantangan besar pertama adalah menciptakan sebuah cerita yang sarat dengan sisi kemanusiaan dan emosi, namun tetap akurat secara ilmiah dan mencerminkan realitas kehidupan orang-orang yang hidup dengan penyakit-penyakit tersebut. Dalam banyak wawancara WMP dengan komunitas yang terdampak, orang-orang menceritakan tentang hidup dengan "bayang-bayang penyakit" atau "di bawah bayang-bayang penyakit." Hal ini memberi kami inspirasi tentang bagaimana kami menggambarkan bayang-bayang tersebut.
Menciptakan sosok hantu ini sebagai gerombolan nyamuk yang terus bergerak merupakan tantangan teknis yang sangat besar, namun penting bagi sosok tersebut terasa terkait dengan isu yang diangkat dan bukan sekadar monster abstrak. Menyeimbangkan kesetiaan pada realitas, menceritakan kisah manusia yang dapat dirasakan dan otentik, dengan alur perjalanan sang pahlawan serta sudut pandang sang gadis, mungkin merupakan tantangan terbesar dari semuanya.
Bagaimana menurut Anda hasil akhir film ini, dan apakah Anda puas dengan hasil akhirnya?
Saya sangat puas dengan hasil film ini. Selama sepuluh tahun beroperasi sebagai studio, ini jelas merupakan proyek paling ambisius kami, yang memakan waktu hampir satu tahun dari awal hingga akhir. Bekerja sama dengan WMP pengalaman yang menyenangkan — keahlian dan antusiasme mereka terhadap topik ini sudah terlihat jelas sejak percakapan pertama.
Bisa berkolaborasi dengan band ternama internasional seperti Efterklang dalam pembuatan soundtrack film ini juga merupakan pengalaman yang luar biasa. Mengunjungi studio mereka di dekat Kopenhagen adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, dan musiknya berhasil mengangkat film ini ke level yang lebih tinggi. Dari sudut pandang kami, ini merupakan tantangan teknis dan kreatif yang sangat besar, tetapi seluruh tim benar-benar bangga dengan hasilnya. Kami tidak sabar menanti film ini tayang di seluruh dunia dan membantu menyelamatkan nyawa.
"Selama sepuluh tahun beroperasi sebagai studio, ini jelas merupakan proyek paling ambisius kami, yang memakan waktu hampir satu tahun dari awal hingga akhir."
Karl Doran, Pendiri dan Direktur Kreatif, Flow Creative
Tonton " Releasing Hope " sekarang
Film ini dapat ditonton secara lengkap di releasinghope.tv — berdurasi empat setengah menit, tanpa dialog, dan dirancang untuk menyentuh hati siapa pun, di mana pun.
Tonton filmnya →
